Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik <p>Jurnal Teknik Majalah Ilmiah Fakultas Teknik Unpak adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Teknik Universitas Pakuan. Jurnal ini telah memiliki e-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1603772461" target="_blank" rel="noopener">2774-5023</a> dan p-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1180430113" target="_blank" rel="noopener">1411-5972</a> yang memuat artikel ilmiah berupa naskah terkait hasil penelitian dalam bidang ilmu Keteknikan dan terapannya dari para peneliti, akademisi, praktisi dan mahasiswa. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun yaitu bulan Juni dan Desember.<br /><br />The Scientific Journal of the Faculty of Engineering at Unpak is managed by the Faculty of Engineering, Pakuan University. This journal, with e-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1603772461" target="_blank" rel="noopener">2774-5023</a> dan p-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1180430113" target="_blank" rel="noopener">1411-5972</a> publishes scientific articles including papers, scientific ideas, and research results in the field of engineering and its applications. Contributors include researchers, academics, practitioners, and students. The journal is published twice a year, in June and December.</p> en-US [email protected] (Janthy Trilusianthy Hidayat) [email protected] (Darsono) Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.6 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Wave Performance Study of a Rapidly Deployable and Foldable Offshore Floating Photovoltaic System https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/47 <p>Based on completed and planned installed capacity, offshore photovoltaics (PV) have emerged as a new form of “Marine plus Renewable Energy” productivity, ranking second only to offshore wind power in China. Existing offshore floating PV solutions typically adopt semi-submersible platform derived from the traditional marine engineering industry, with a few based on overseas thin-film technologies. Conventional solutions suffer from several limitations: (1) semi-submersible platforms are large and heavy, with complex construction organization, low efficiency, high costs, strong dependence on nearshore fabrication sites and marine engineering production capacity; (2) transport efficiency is low, with only hundreds of kilowatts per shipment (compared to megawatts per shipment for offshore wind); and (3) thin-film solutions rely on non-standard, customized PV modules. To address these challenges, a rapidly deployable and foldable offshore floating photovoltaic system TK-FFPV has been developed, based on first-principles thinking and the KISS (Keep It Simple and Stupid) design philosophy. By leveraging prefabrication, modularization, and foldable structures, TK-FFPV transforms the high-risk, costly, and complex outdoor construction paradigm of large marine engineering equipment into a safe, economical, and efficient indoor intelligent manufacturing model for small electromechanical equipment. The approach is more conducive to exploiting industrial supply chain advantages, enabling large-scale deployment and export, reducing costs, improving efficiency, and accelerating the development of offshore PV. This paper presents the real-sea field tests conducted for the wave performance of TK-FFPV system.</p> Tingting Zhu, Xu Zhao, Yanan Xu, Hanbao Chen Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/47 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Perkembangan Urban Sprawl pada Kawasan Pinggiran di Kota Bogor https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/48 <p>Perkembangan urban sprawl (perluasan kota yang tidak terkendali) di Kota Bogor sebagai bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek telah menimbulkan kekhawatiran serius terkait degradasi ekologi, ketahanan pangan, dan implementasi rencana tata ruang. Namun, penelitian yang ada sebagian besar berfokus pada inti Kota Jakarta, sehingga masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai dinamika, dampak, dan strategi pengendalian yang kontekstual terhadap urban sprawl khususnya di wilayah pinggiran Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola dan tingkat perkembangan urban sprawl di wilayah pinggiran Kota Bogor selama periode 2014–2024; (2) menganalisis dampak urban sprawl terhadap perubahan pola ruang dan kebutuhan lahan di wilayah pinggiran Kota Bogor; serta (3) merumuskan strategi pengendalian perkotaan yang kontekstual untuk mengelola urban sprawl di wilayah pinggiran Kota Bogor.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial pada 29 kelurahan di wilayah pinggiran Kota Bogor yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Data utama berupa citra Landsat 8 dan Landsat 9 tahun 2014, 2019, dan 2024 yang dianalisis menggunakan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification). Teknik analisis yang digunakan meliputi overlay untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan, perhitungan Sprawl Index (SI), analisis autokorelasi spasial (Moran’s I dan LISA), serta proyeksi geometrik penduduk.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan terbangun meningkat sebesar 502,07 hektare (dari 34,02% menjadi 48,22%) selama periode 2014–2024, sementara luas sawah mengalami penurunan drastis sebesar 1.677,60 hektare (dari 32,32% menjadi 3,10%). Pola urban sprawl didominasi oleh perkembangan memanjang (ribbon development) di sepanjang koridor Jalan Tol Jagorawi dan perkembangan meloncat (leapfrog development) di wilayah Katulampa (timur) dan Rancamaya (selatan). Nilai Sprawl Index menunjukkan percepatan yang signifikan pada periode 2019–2024, dengan luas area kategori strong sprawl meningkat dari 491,84 hektare menjadi 2.052,81 hektare. Analisis LISA mengidentifikasi pergeseran hotspot dari Situ Gede (2014–2019) ke Ciparigi dan Katulampa (2019–2024), sementara Rancamaya tetap menjadi pencilan (outlier) tipe High-Low yang persisten. Proyeksi penduduk hingga tahun 2030 menunjukkan kebutuhan tambahan lahan sebesar 60–70 hektare, sedangkan evaluasi kesesuaian tata ruang mengungkap adanya 237,6 hektare lahan terbangun yang berada di zona lindung dan zona pertanian.</p> <p>Berdasarkan temuan tersebut, strategi pengendalian dirumuskan ke dalam tiga zona prioritas. Zona I (Ciparigi dan Katulampa) memerlukan pengendalian ketat melalui moratorium sementara dan instrumen fiskal. Zona II (koridor Jalan Tol Jagorawi dan Rancamaya) memerlukan pengendalian terarah melalui pengembangan berbasis transit (Transit-Oriented Development/TOD). Zona III (Situ Gede, Balumbangjaya, dan area persawahan yang tersisa) memerlukan perlindungan melalui insentif pajak dan program restorasi lingkungan. Penguatan kelembagaan serta pemantauan berkala berbasis citra satelit menjadi kunci keberhasilan implementasi strategi tersebut.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: wilayah pinggiran kota, perubahan penggunaan lahan, autokorelasi spasial, LISA, urban sprawl.</p> <p> </p> <p><em><strong><span style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif; color: windowtext;">ABSTRACT</span></strong></em></p> <p><em>Urban sprawl in Bogor City as part of the Jabodetabek metropolitan area has raised serious concerns regarding ecological degradation, food security, and spatial plan implementation. However, existing studies have largely focused on the core of Jakarta, leaving a gap in understanding the dynamics, impacts, and contextual control strategies for sprawl specifically in Bogor's fringe areas. This study aims to: (1) identify the patterns and levels of urban sprawl development in the fringe areas of Bogor City during the 2014–2024 period; (2) analyze the impacts of urban sprawl on spatial pattern changes and land requirements in the fringe areas of Bogor City; and (3) formulate contextual urban control strategies to manage urban sprawl in the fringe areas of Bogor City.</em></p> <p><em>The research employed a quantitative approach with spatial analysis across 29 sub-districts in Bogor City's fringe areas bordering Bogor Regency. Primary data consisted of Landsat 8 and 9 imagery from 2014, 2019, and 2024 analyzed through supervised classification. Analysis techniques included overlay for land change detection, Sprawl Index (SI) calculation, spatial autocorrelation (Moran's I and LISA), geometric population projection.</em></p> <p><em>The results showed that built-up land increased by 502.07 ha (from 34.02% to 48.22%) during 2014-2024, while paddy fields decreased drastically by 1,677.60 ha (from 32.32% to 3.10%). Sprawl patterns were dominated by ribbon development along the Jagorawi Toll Road corridor and leapfrog development in Katulampa (east) and Rancamaya (south). The Sprawl Index indicated significant acceleration in 2019-2024, with the strong sprawl category area increasing from 491.84 ha to 2,052.81 ha. LISA analysis identified hotspot shifts from Situ Gede (2014-2019) to Ciparigi and Katulampa (2019-2024), with Rancamaya as a persistent High-Low outlier. Population projection until 2030 indicated additional land requirements of 60-70 ha, while conformity evaluation revealed 237.6 ha of built-up land in protected and agricultural zones.</em></p> <p><em>Based on these findings, control strategies were formulated into three priority zones: Zone I (Ciparigi and Katulampa) requiring strict control through temporary moratoriums and fiscal instruments; Zone II (Jagorawi Toll Road corridor and Rancamaya) requiring directed control through Transit-Oriented Development; and Zone III (Situ Gede, Balumbangjaya, and remaining paddy fields) requiring protection through tax incentives and environmental restoration programs. </em><em>Institutional strengthening and periodic satellite-based monitoring are key to implementation.</em></p> <p><strong><em>Keyword</em></strong><em><strong>s</strong>:</em> <em>Fringe area</em>, <em>Land use change, spatial autocorrelation, LISA, urban sprawl.</em></p> Andra Aswandi, Janthy T. Hidayat, Lilis Sri Mulyawati Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/48 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Pola Sebaran dan Jangkauan Layanan pada Rumah Sakit dan Puskesmas di Wilayah Calon Pemekaran Kabupaten Cirebon Timur Menggunakan Metode Analisis Spasial https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/49 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran dan jangkauan layanan pada rumah sakit dan puskesmas dalam rangka mendukung pemekaran rencana Kabupaten Cirebon Timur, Provinsi Jawa Barat, menggunakan metode analisis spasial. Metode yang digunakan meliputi <em>Average Nearest Neighbor (ANN)</em> untuk mengidentifikasi pola sebaran, <em>Kernel Density </em>untuk menganalisis kepadatan permukiman, <em>Network Analysis (Service Area)</em> untuk mengukur jangkauan layanan berdasarkan jarak dan waktu tempuh, serta <em>Location-Allocation </em>untuk menilai keterlayanan optimal rumah sakit dan puskesmas terhadap permukiman. Hasil analisis <em>Average Nearest Neighbor </em>menunjukkan pola persebaran rumah sakit dan puskesmas bersifat seragam (<em>dispersed pattern</em>) dengan nilai <em>Nearest Neighbor Ratio </em>1.264, <em>z-score </em>2.57, <em>p-value </em>0.009915, bahwa pola sebaran tidak acak secara statistik. Namun, hasil <em>Kernel Density </em>memperlihatkan ketidaksesuaian antara lokasi rumah sakit dan puskesmas dengan konsentrasi permukiman berkepadatan tinggi yang dominan di wilayah timur dan timur laut. Analisis jangkauan berdasarkan jarak menunjukkan bahwa hingga radius 6.000 meter, menjangkau 66,55% wilayah, sementara 33,45% lainnya masih belum terlayani secara efektif. Berdasarkan waktu tempuh, jangkauan 15 menit mencakup area yang lebih luas dibandingkan dengan 5 menit dan 10 menit, tetapi masih terdapat wilayah dengan akses terbatas akibat kondisi jaringan jalan. Hasil <em>Location-Allocation </em>dengan waktu tempuh optimal 15 menit menunjukkan bahwa 77,87% bangunan permukiman telah terlayani, sedangkan 22,13% belum terjangkau secara optimal, terutama di wilayah pinggiran dengan aksesibilitas rendah. Temuan ini menegaskan perlunya penataan ulang lokasi rumah sakit dan puskesmas dan peningkatan infrastruktur jaringan jalan guna mewujudkan pemerataan akses pelayanan kesehatan pada wilayah calon pemekaran Kabupaten Cirebon Timur.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Rumah Sakit dan Puskesmas; Keterjangkauan Spasial; <em>Average Nearest Neighbor; Kernel Density;</em> <em>Network Analysis.</em></p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>This study aims to analyze the spatial distribution patterns and service coverage of hospitals and community health centers (puskesmas) in support of the proposed expansion of East Cirebon Regency, West Java Province, using spatial analysis methods. The methods employed include Average Nearest Neighbor (ANN) to identify distribution patterns, Kernel Density to analyze settlement density, Network Analysis (Service Area) to measure service coverage based on distance and travel time, and Location-Allocation to assess the optimal service coverage of hospitals and community health centers in relation to residential areas. The results of the Average Nearest Neighbor analysis indicate that the distribution pattern of hospitals and community health centers is dispersed, with a Nearest Neighbor Ratio of 1.264, a z-score of 2.57, and a p-value of 0.009915, demonstrating that the spatial pattern is statistically non-random. However, the Kernel Density analysis reveals a mismatch between the locations of hospitals and community health centers and high-density settlement concentrations, which are predominantly located in the eastern and northeastern parts of the study area. Distance-based service area analysis shows that coverage within a 6,000-meter radius reaches 66.55% of the region, while 33.45% remains underserved. Based on travel time, the 15-minute service area covers a broader area compared to the 5- and 10-minute ranges; however, certain areas still experience limited accessibility due to road network conditions. The Location-Allocation analysis, using an optimal 15-minute travel time threshold, indicates that 77.87% of residential buildings are adequately served, while 22.13% remain underserved, particularly in peripheral areas with low accessibility. These findings highlight the need for strategic relocation of hospitals and community health centers, as well as improvements to road network infrastructure, in order to achieve equitable access to healthcare services in the proposed East Cirebon Regency expansion area.</em></p> <p><em><strong>Keywords:</strong> Hospitals and Community Health Centers; Spatial Accessibility; Average Nearest Neighbor; Kernel Density; Network Analysis.</em></p> Muhamad Hady Prasetiya, Rina Muthia Harahap, Bebas Purnawan Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/49 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Arahan Rencana Penggunaannya di Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/50 <p>Penelitian ini mengkaji perubahan penggunaan lahan dari tahun 2005 hingga 2025, memprediksi skenario penggunaan lahan pada tahun 2031, serta mengusulkan arahan perencanaan penggunaan lahan yang selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Metodologi yang digunakan terutama berupa analisis spasial kuantitatif dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), menggunakan teknik overlay untuk analisis data historis dan metode Cellular Automata-Markov Chain (CA-Markov) untuk prediksi penggunaan lahan di masa mendatang.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan yang signifikan di Kecamatan Bogor Barat, yang terutama ditandai oleh perluasan kawasan permukiman dan berkurangnya lahan pertanian. Prediksi tahun 2031 menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk permukiman akan mendominasi wilayah tersebut dengan luas sekitar 1.866,99 hektare.</p> <p>Meskipun sebagian besar penggunaan lahan telah sesuai dengan arahan tata ruang, masih ditemukan ketidaksesuaian pada kawasan pertanian, ruang terbuka hijau, dan sempadan sungai akibat tekanan perkembangan perkotaan. Arahan perencanaan yang disarankan menekankan pentingnya pengendalian ekspansi permukiman, perlindungan lahan pertanian dan ruang terbuka hijau, pengembangan kawasan perdagangan dan jasa berbasis aksesibilitas, serta penegakan regulasi pada kawasan lindung guna mendukung pembangunan wilayah yang berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : Perubahan Penggunaan Lahan; Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan; Prediksi Penggunaan</p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>The study investigates land use changes from 2005 to 2025, forecasts scenarios for 2031, and proposes land use planning directions aligned with the Regional Spatial Plan (RTRW). The methodology primarily uses quantitative spatial analysis with Geographic Information Systems (GIS), employing overlay techniques for historical data and Cellular Automata-Markov Chain (CA-Markov) for future predictions. </em></p> <p><em>Results indicate significant land use alterations in West Bogor District, mainly characterized by the expansion of residential areas and a decrease in agricultural land. The 2031 forecast predicts that residential land use will dominate the region, covering approximately 1,866.99 hectares. </em></p> <p><em>While most land uses align with spatial planning directives, discrepancies are noted in agricultural zones, green spaces, and river buffer areas due to urban development pressures. Suggested planning directions emphasize regulating residential expansion, protecting agricultural lands and green spaces, promoting accessibility-based commercial and service development, and enforcing regulations in protected areas for sustainable regional development.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Land Use Change; Land Use Planning Direction; Land Use Prediction.</em></p> Muhamad Adam, Santun R.P. Sitorus, Lilis Sri Mulyawati Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/50 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Ruang Terbuka Hijau Publik Taman Kota pada Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/51 <p>Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik adalah elemen krusial dalam pembangunan area perkotaan yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem, memperbaiki nilai estetika kota, serta mendukung kegiatan sosial warga. Distrik Manokwari Barat yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa di Kabupaten Manokwari mengalami pertumbuhan wilayah yang signifikan, sehingga berpengaruh pada semakin sedikitnya lahan terbuka hijau yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan distribusi Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik, menganalisis sifat-sifat RTH, serta menganalisis fungsi RTH berdasarkan sifat dan karakteristik di Distrik Manokwari Barat. Metode penelitian yang diterapkan adalah pendekatan deskriptif dengan kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, dokumentasi, digitasi spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), dan pengumpulan data sekunder dari lembaga yang berwenang. Analisis yang diterapkan mencakup analisis spasial, analisis deskriptif terhadap karakteristik taman, analisis penilaian fungsi ekologis, sosial budaya, dan estetika, serta analisis strategi pengembangan ruang terbuka hijau publik taman kota yang ada di distrik ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam Ruang Terbuka Hijau publik utama di Distrik Manokwari Barat, yaitu Taman Sepatu, Taman Jokowi Anggrem, Taman Suwaibu Wirsi, Taman Selamat Datang, Taman I.J. Kijney, dan RTP Borarsi. RTP Borarsi adalah taman yang memiliki area dan fasilitas terluas, sehingga berperan sebagai pusat sosial budaya yang paling utama. Umumnya, fungsi sosial budaya menjadi peran utama di banyak taman kota karena digunakan sebagai area interaksi sosial, olahraga, rekreasi, dan kegiatan masyarakat lainnya. Di sisi lain, peran ekologis dan estetika belum maksimal karena terbatasnya vegetasi, luas area, dan kurangnya perawatan fasilitas taman.</p> <p>Studi ini diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pengembangan Ruang Terbuka Hijau publik secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan warga di Distrik Manokwari Barat.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Ruang Terbuka Hijau; RTH Publik; Taman Kota; Fungsi RTH; Distrik Manokwari Barat</p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Public Green Open Space is a crucial element in urban development, playing a role in maintaining ecosystem balance, enhancing the city's aesthetic value, and supporting community social activities. Distrik Manokwari Barat, which serves as the center of government, commerce, and services in Kabupaten Manokwari, has experienced significant regional growth, resulting in a decreasing availability of green open space. This study aims to identify and map the distribution of public Green Open Space, analyze the characteristics of green open space, and identify the functions of green open space based on their characteristics in Distrik Manokwari Barat. The research method used is a descriptive approach combining quantitative and qualitative methods. Data collection methods include direct observation, documentation, spatial digitization using a Geographic Information System (GIS), and secondary data collection from authorized institutions. The analysis includes spatial analysis, descriptive analysis of park ecological characteristics, and functional, socio-cultural, and aesthetic assessments.The results indicate that there are six main public green open space in Distrik Manokwari Barat: Sepatu Park, Jokowi Anggrem Park, Suwaibu Wirsi Park, Selamat Datang Park, I.J. Kijney Park, and RTP Borarsi. RTP Borarsi is the park with the largest area and facilities, thus serving as the primary socio-cultural center. Generally, socio-cultural functions play a primary role in many city parks, as they are used for social interaction, sports, recreation, and other community activities. On the other hand, their ecological and aesthetic roles are not maximized due to limited vegetation, limited area, and inadequate maintenance of park facilities.</em></p> <p><em>This study is expected to serve as a reference for local governments in the sustainable management and development of public green open spaces to improve environmental quality and resident comfort in Distrik Manokwari Barat.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Green Open Space; Public Green Open Space; City Park; Green Open Space Function; Distrik Manokwari Barat.</em></p> Nada Utari Putri, Janthy T. Hidayat, Mujio Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/51 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Manajemen Risiko Paparan Getaran Mekanis Alat Konstruksi terhadap Bangunan Sekitar https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/52 <p>Pengoperasian alat berat di lokasi konstruksi menghasilkan kebisingan dan getaran mekanis yang merambat melalui tanah dan memengaruhi bangunan serta komunitas di sekitarnya. Studi literatur kualitatif ini meneliti pendekatan manajemen risiko untuk paparan kebisingan dan getaran dari mesin konstruksi. Sumber kebisingan meliputi mesin diesel, sistem hidrolik, dan benturan bucket dengan material keras. Getaran berasal dari pemancangan tiang, pemadatan tanah, dan pergerakan kendaraan beroda rantai. Metode pengukuran menggunakan pengukur tingkat suara dan akselerometer memerlukan kalibrasi dan penempatan sensor yang tepat. Langkah-langkah pengendalian di sumbernya meliputi pemilihan peralatan yang lebih tenang, perawatan knalpot secara berkala, dan pemancangan tiang hidrolik sebagai pengganti palu diesel. Pengendalian jalur meliputi penghalang kebisingan, penggalian parit, dan pengaturan jarak. Pengendalian penerima meliputi pelindung telinga untuk pekerja dan kaca ganda untuk tempat tinggal di dekatnya. Pemantauan berkelanjutan dengan sensor nirkabel memungkinkan peringatan pelanggaran secara real time dan tindakan korektif yang cepat.</p> <p><strong>Kata Kunci </strong>: paparan kebisingan, getaran mekanis, alat berat, kerusakan bangunan, gangguan masyarakat.</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Heavy equipment operation on construction sites generates noise and mechanical vibration that propagate through soil and affect nearby buildings and communities. This qualitative literature study examines risk management approaches for noise and vibration exposure from construction machinery. Noise sources include diesel engines, hydraulic systems, and bucket impacts with hard materials. Vibration originates from pile driving, soil compaction, and tracked vehicle movement. Measurement methods using sound level meters and accelerometers require proper calibration and sensor placement. Control measures at the source include selecting quieter equipment, regular exhaust maintenance, and hydraulic pile drivers instead of diesel hammers. Path controls involve noise barriers, trench cutting, and distance arrangement. Receiver controls comprise hearing protection for workers and double glazing for nearby residences. Continuous monitoring with wireless sensors enables real time violation alerts and prompt corrective actions.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong>: <em>noise exposure, mechanical vibration, heavy equipment, building damage, community disturbance.</em></p> Didit Darmawan, Max Biaggie Araya Kautsar, Putri Syafa Az-Zahra , Rahayu Mardikaningsih, Mohammad Djaelani Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/52 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Dynamic Simulation of Slope Stability in the Zero-Point Area of Ciliwung https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/53 <p>Kawasan Titik Nol Ciliwung memiliki tutupan lahan berupa perkebunan teh, tersusun oleh batuan vulkanik, serta memiliki kemiringan lereng yang curam, sehingga kondisi tersebut berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengeboran tangan (hand boring), analisis sifat-sifat tanah, serta analisis nilai faktor keamanan lereng menggunakan perangkat lunak Geoslope/W 2012. Hasil simulasi kestabilan lereng tanpa beban menunjukkan bahwa pada kedalaman muka air tanah sekitar ±1 m (faktor keamanan 1,910), ±5 m (faktor keamanan 2,013), maupun pada kondisi tanah jenuh air (faktor keamanan 1,558), nilai faktor keamanan lereng masih berada dalam kondisi stabil. Namun, pada lereng yang menerima beban sebesar 100 kg/cm², dengan kedalaman muka air tanah sekitar ±5 m (faktor keamanan = 0,818) dan ±1 m (faktor keamanan 0,696), serta pada kondisi tanah jenuh air (faktor keamanan 0,488), nilai faktor keamanan lereng menunjukkan kondisi tidak stabil. Perubahan tutupan lahan dari vegetasi perkebunan teh menjadi vegetasi atau penggunaan lahan dengan beban yang lebih besar akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga berpotensi menurunkan kestabilan lereng.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Simuasi dinamik; Kestabilan lereng; Titik Nol;<em> Ciliwung</em></p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>The Ciliwung Zero-Point area has tea plantation land cover, with volcanic rock constituents and steep slopes that will affect slope stability. The method used is hand boring and soil properties also analysis of safety factor values with Geoslope/W 2012 software. The results of the no-load slope safety simulation show that with a groundwater table depth of ± 1 m (safety factor 1.910), ± 5 m (safety factor slope 2.013) even in water-saturated soil conditions (safety factor is 1.558), the slope safety factor is still stable. However, the slope with a load on it of 100 kg/cm², with a groundwater level depth of ± 5 m (safety factor is 0.818) and ± 1 m (safety factor is 0.696), as well as the condition of the slope soil saturated with water (safety factor is 0.488), the value of the slope safety factor is unstable. Changing the land cover from tea vegetation to vegetation with heavy loads will increase the slope load.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Dinamic Simulation; Slope stability; Zero Point; Ciliwung</em></p> Solihin, Muhammad Agus Karmadi, Helmi Setia Ritma Pamungkas Copyright (c) 2026 Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalteknik-ft.unpak.ac.id/index.php/jurnalteknik/article/view/53 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000