Perkembangan Urban Sprawl pada Kawasan Pinggiran di Kota Bogor

Authors

  • Andra Aswandi Fakultas Teknik, Universitas Pakuan
  • Janthy T. Hidayat Universitas Pakuan
  • Lilis Sri Mulyawati Universitas Pakuan

DOI:

https://doi.org/10.33751/teknik.v27i1.48

Keywords:

wilayah pinggiran kota, perubahan penggunaan lahan, autokorelasi spasial, LISA, urban sprawl.

Abstract

Perkembangan urban sprawl (perluasan kota yang tidak terkendali) di Kota Bogor sebagai bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek telah menimbulkan kekhawatiran serius terkait degradasi ekologi, ketahanan pangan, dan implementasi rencana tata ruang. Namun, penelitian yang ada sebagian besar berfokus pada inti Kota Jakarta, sehingga masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai dinamika, dampak, dan strategi pengendalian yang kontekstual terhadap urban sprawl khususnya di wilayah pinggiran Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola dan tingkat perkembangan urban sprawl di wilayah pinggiran Kota Bogor selama periode 2014–2024; (2) menganalisis dampak urban sprawl terhadap perubahan pola ruang dan kebutuhan lahan di wilayah pinggiran Kota Bogor; serta (3) merumuskan strategi pengendalian perkotaan yang kontekstual untuk mengelola urban sprawl di wilayah pinggiran Kota Bogor.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial pada 29 kelurahan di wilayah pinggiran Kota Bogor yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Data utama berupa citra Landsat 8 dan Landsat 9 tahun 2014, 2019, dan 2024 yang dianalisis menggunakan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification). Teknik analisis yang digunakan meliputi overlay untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan, perhitungan Sprawl Index (SI), analisis autokorelasi spasial (Moran’s I dan LISA), serta proyeksi geometrik penduduk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan terbangun meningkat sebesar 502,07 hektare (dari 34,02% menjadi 48,22%) selama periode 2014–2024, sementara luas sawah mengalami penurunan drastis sebesar 1.677,60 hektare (dari 32,32% menjadi 3,10%). Pola urban sprawl didominasi oleh perkembangan memanjang (ribbon development) di sepanjang koridor Jalan Tol Jagorawi dan perkembangan meloncat (leapfrog development) di wilayah Katulampa (timur) dan Rancamaya (selatan). Nilai Sprawl Index menunjukkan percepatan yang signifikan pada periode 2019–2024, dengan luas area kategori strong sprawl meningkat dari 491,84 hektare menjadi 2.052,81 hektare. Analisis LISA mengidentifikasi pergeseran hotspot dari Situ Gede (2014–2019) ke Ciparigi dan Katulampa (2019–2024), sementara Rancamaya tetap menjadi pencilan (outlier) tipe High-Low yang persisten. Proyeksi penduduk hingga tahun 2030 menunjukkan kebutuhan tambahan lahan sebesar 60–70 hektare, sedangkan evaluasi kesesuaian tata ruang mengungkap adanya 237,6 hektare lahan terbangun yang berada di zona lindung dan zona pertanian.

Berdasarkan temuan tersebut, strategi pengendalian dirumuskan ke dalam tiga zona prioritas. Zona I (Ciparigi dan Katulampa) memerlukan pengendalian ketat melalui moratorium sementara dan instrumen fiskal. Zona II (koridor Jalan Tol Jagorawi dan Rancamaya) memerlukan pengendalian terarah melalui pengembangan berbasis transit (Transit-Oriented Development/TOD). Zona III (Situ Gede, Balumbangjaya, dan area persawahan yang tersisa) memerlukan perlindungan melalui insentif pajak dan program restorasi lingkungan. Penguatan kelembagaan serta pemantauan berkala berbasis citra satelit menjadi kunci keberhasilan implementasi strategi tersebut.

Kata kunci: wilayah pinggiran kota, perubahan penggunaan lahan, autokorelasi spasial, LISA, urban sprawl.

 

ABSTRACT

Urban sprawl in Bogor City as part of the Jabodetabek metropolitan area has raised serious concerns regarding ecological degradation, food security, and spatial plan implementation. However, existing studies have largely focused on the core of Jakarta, leaving a gap in understanding the dynamics, impacts, and contextual control strategies for sprawl specifically in Bogor's fringe areas. This study aims to: (1) identify the patterns and levels of urban sprawl development in the fringe areas of Bogor City during the 2014–2024 period; (2) analyze the impacts of urban sprawl on spatial pattern changes and land requirements in the fringe areas of Bogor City; and (3) formulate contextual urban control strategies to manage urban sprawl in the fringe areas of Bogor City.

The research employed a quantitative approach with spatial analysis across 29 sub-districts in Bogor City's fringe areas bordering Bogor Regency. Primary data consisted of Landsat 8 and 9 imagery from 2014, 2019, and 2024 analyzed through supervised classification. Analysis techniques included overlay for land change detection, Sprawl Index (SI) calculation, spatial autocorrelation (Moran's I and LISA), geometric population projection.

The results showed that built-up land increased by 502.07 ha (from 34.02% to 48.22%) during 2014-2024, while paddy fields decreased drastically by 1,677.60 ha (from 32.32% to 3.10%). Sprawl patterns were dominated by ribbon development along the Jagorawi Toll Road corridor and leapfrog development in Katulampa (east) and Rancamaya (south). The Sprawl Index indicated significant acceleration in 2019-2024, with the strong sprawl category area increasing from 491.84 ha to 2,052.81 ha. LISA analysis identified hotspot shifts from Situ Gede (2014-2019) to Ciparigi and Katulampa (2019-2024), with Rancamaya as a persistent High-Low outlier. Population projection until 2030 indicated additional land requirements of 60-70 ha, while conformity evaluation revealed 237.6 ha of built-up land in protected and agricultural zones.

Based on these findings, control strategies were formulated into three priority zones: Zone I (Ciparigi and Katulampa) requiring strict control through temporary moratoriums and fiscal instruments; Zone II (Jagorawi Toll Road corridor and Rancamaya) requiring directed control through Transit-Oriented Development; and Zone III (Situ Gede, Balumbangjaya, and remaining paddy fields) requiring protection through tax incentives and environmental restoration programs. Institutional strengthening and periodic satellite-based monitoring are key to implementation.

Keywords: Fringe area, Land use change, spatial autocorrelation, LISA, urban sprawl.

References

Andari, M. T., Pravitasari, A. E., & Anwar, S. (2022). Analisis Urban Sprawl sebagai rekomendasi pengendalian pemanfaatan ruang untuk pengembangan lahan pertanian di Kabupaten Karawang. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 6(1), 74–88.

Angel, S. (2012). Planet of cities. Lincoln Institute of Land Policy.

Anselin, L. (1995). Local indicators of spatial association—LISA. Geographical Analysis, 27(2), 93–115.

Apriani, W. (2015). Analisis pola spasial urban sprawl di Kota Bandung menggunakan citra satelit multitemporal. [Tesis atau artikel terkait].

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. (2023). Kota Bogor dalam angka 2023.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. (2024). Statistik Kota Bogor 2024.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. (2025). Kota Bogor dalam angka 2025.

Calthorpe, P. (1993). The next American metropolis: Ecology, community, and the American dream. Princeton Architectural Press.

Calthorpe, P. (2015). The next American metropolis. In R. Ewing & S. Hamidi (Eds.), Compactness versus sprawl: A review of recent evidence from the United States. Journal of Planning Literature.

European Environment Agency (EEA). (2016). Urban sprawl in Europe (EEA Report No. 11/2016).

Ewing, R. (1997). Is Los Angeles-style sprawl desirable? Journal of the American Planning Association, 63(1), 107–126.

Ewing, R., & Hamidi, S. (2015). Compactness versus sprawl: A review of recent evidence from the United States. Journal of Planning Literature, 30(4), 413–432.

Fahrig, L. (2003). Effects of habitat fragmentation on biodiversity. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics, 34, 487–515.

Firman, T. (2017). The dynamics of peri-urbanization in Indonesia: The case of Jabodetabek. Habitat International, 62, 1–10.

Forman, R. T. (1995). Land mosaics: The ecology of landscapes and regions. Cambridge University Press.

Fuadina, L. N., Rustiadi, E., & Pravitasari, A. E. (2021). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi urban sprawl di Kawasan Cekungan Bandung. Tataloka, 23(1), 105–114.

Jenks, M., Burton, E., & Williams, K. (1996). The compact city: A sustainable urban form? E & FN Spon.

Hidajat, J. T., Sitorus, S. R. P., Rustiadi, E., & Machfud. (2013). Urban sprawl effects on settlement areas in urban fringe of Jakarta Metropolitan Area. Journal of Environment and Earth Science, 3(12), 172–180.

Hidajat, J. T., Sitorus, S. R. P., Rustiadi, E., & Machfud. (2013). Dinamika pertumbuhan dan status keberlanjutan kawasan permukiman di pinggiran kota wilayah metropolitan Jakarta. Majalah Ilmiah Globe, 15(1), 93–100.

Hidayat, J. T., & Apriyanto, H. (2025). Scenario-Based Dynamic Modeling for Urban Settlement Management. Advance Sustainable Science, Engineering and Technology (ASSET), 7(3), 02503014.

Hidayat, J.T., & Ridwan, M. (2018). Assessment of the quality of public Green Open Space (GOS) in the urban fringes in response to urban sprawl phenomenon (case study District of Tanah Sareal, Bogor City). IOP Conference Series : Earth and Environmental Science 179 (1).

Li, X., et al. (2021). Spatial–temporal impacts of urban sprawl on ecosystem services: Implications for urban planning in the process of rapid urbanization. Land, 10(11), 1210.

Mujiandari, R. (2014). Perkembangan urban sprawl Kota Semarang pada wilayah Kabupaten Demak tahun 2001-2012. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 2(2), 129–142.

Mustofa. (2016). Karakteristik spasial urban sprawl Kecamatan Pontianak Utara. Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial.

Nugroho, I. S., Yuliani, E., & Kautsary, J. (2022). Fenomena urban sprawl terhadap faktor-faktor perubahan penggunaan lahan di pinggiran kota. Journal of Urban and Regional Planning.

OECD. (2012). Compact city policies: A comparative assessment. OECD Publishing.

OECD. (2018). Rethinking urban sprawl: Moving towards sustainable cities. OECD Publishing.

Permana, M., Sitorus, S. P., & Darmawan. (2021). Analisis perubahan penggunaan lahan dan prediksinya dengan menggunakan Markov–Cellular Automata di wilayah peri urban Kota Malang. Tataloka, 23(3), 307–319.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.

Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 6 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor Tahun 2011–2031.

UN-Habitat. (2022). World cities report 2022: Envisaging the future of cities. United Nations Human Settlements Programme.

Yunus, H. S. (2000). Perkembangan kota dan kawasan peri-urban. Pustaka Pelajar.

Yunus, H. S. (2002). Dinamika wilayah peri-urban. Pustaka Pelajar.

Yunus, H. S. (2005). Perkembangan kota dan kawasan peri-urban. Pustaka Pelajar.

Yunus, H. S. (2008). Dinamika wilayah peri-urban: Determinan masa depan kota. Pustaka Pelajar.

Downloads

Published

30-06-2026

How to Cite

Andra Aswandi, Hidayat, J. T., & Mulyawati, L. S. (2026). Perkembangan Urban Sprawl pada Kawasan Pinggiran di Kota Bogor. Jurnal Teknik | Majalah Ilmiah Fakultas Teknik UNPAK, 27(1), 8–16. https://doi.org/10.33751/teknik.v27i1.48

Most read articles by the same author(s)